Tarekat Kita

Facebook
WhatsApp
Copy Title and Content
Content has been copied.
2 min read

Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dibangun dengan 3 pilar yaitu:
– “jiddin” (جِدٍّ)
– “haqqin” (حَقٍّ)
– “shidqin” (ٍصِدْق).

Jid itu tekun. Haq itu benar yg telah disahkan. Shidq itu têmên (tekun, benar dan sah).

Juri “Jiddin” adalah Mursyid. Juri “haqqin” adalah Rasulullah. Juri “shidqin” adalah Allah.

“Jiddin” merupakan standar penilaian terhadap nafsu. “Haqqin” merupakan standar penilaian hati/qalb. Sedangkan shidq adalah standar penilaian “ruh”. Ketiganya menjadi satu dalam “sirri”.

“Jiddin” terjadi di alam mulk/nāsut (kerajaan lahir). “Haqqin” di alam malakut (kerajaan batin). “Shidqin” di alam jabarut (alam ketuhanan dengan obyek makhluk). Jika ketiganya telah dinilai lulus maka masuk ke dalam alam lahut (alam ketuhanan murni).

Bertarekat yg benar dalam lembaga tarekat yg benar itu bisa ditinjau dari 2 paramater atau di golongkan menjadi 2 jenis yaitu:
– Tarekat wushul (menjadi wali Allah)
– Tarekat tanazul (ngalap berkah)

Tarekat wushul adalah tarekat menuju tujuan hidup, Allah sehingga akan menjadi wali Allah yg menggapai maqam iqan. Sedangkan tarekat tanazul hanya puas di maqam iman atau maqam ihsan. Di namakan “tanazul” karena turun dari standard primer dan cukup puas mendapat standar sekunder. Standar primernya adalah wushul ila hadafi Al-Haq (sampai dihadirat Allah/shidratul muntaha), sedangkan standar sekunder itu dibawahnya yaitu di maqam ihsan atau bahkan hanya cukup puas di maqam iman.

Allah menghendaki hamba-Nya agar wushul. Sebagian hamba-Nya yg orientasinya adalah wushul bisa saja hanya sampai derajat tanazul (ihsan).

Tetapi bagi murid tarekat yg mudah puas dan merasa nyaman di derajat tanazul, berhati-hatilah jika harus menerima kenyataan jebloknya derajat yaitu terlempar ke dalam hamba yg tidak dilirik oleh Allah atau hamba yg dibenci oleh-Nya.

Intinya…

Murid tarekat harus memasang target wushul (naik dari alam nasut/mulk, malakūt, jabarūt hingga lahūt).

Modal untuk menggapai target tersebut adalah mengamalkan (menempuh tarekat) “jiddin”, “haqqin” dan “shidqin” yg dinilai benar oleh Wakil Rasulullah, Rasulullah dan Allah.

Bughyatus Salik wa Irsyadul Halik (chapter: 38)

Bersuluk itu ibarat “tancap gas” untuk meraih pengesahan 3 parameter tersebut. Jika tidak mau tancap gas, mana mungkin bisa sampai pada persinggahan² mulia tersebut?

Stay inside the oasis.

Tetaplah berada di dalam oase.

Tebusan

Tasawuf sebagai Legitimasi Politik dan Sumber Kesaktian

Dalil Membakar Buhur/Dupa dalam Majelis Dzikir dan Maulid

Karamah Wali Allah

Tentang Futuwwah

Peran Politik Kaum Sufi

Engkau Akan Bersama dengan Orang yang Kau Cintai

Kisah YM Ayahanda Guru

Cara Wushul Tercepat

Makna Pikiran, Pendahuluan dan Turunannya

Tarekat Qadiriyah di Indonesia

Syaikh Muhammad Ali as-Sanusi

Gejolak Hati Melebihi Air yang Mendidih

Problem Umum bagi Murid Thariqat

Intiqal, Ittihad, Hulul & Ittishal

Tasawuf dan Gugurnya Kewajiban Syari’at

Thariqah Naqsyabandiyah

Plato: Wali Qutub di Zamannya

Tarekat Kita