— Sayyidi Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari qs.

“Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu.”

— Sayyidi Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari qs.

“Bila hati masih merasa risau dan sedih berarti masih terhalang untuk menyaksikan-Nya.”

— Imam Malik bin Anas ra.

“Jika ada orang membela kebenaran namun dengan cara menghujat, mencerca, dan marah-marah, ketahuilah, niat orang itu telah cacat. Kebenaran tak perlu dibela dengan cara-cara seperti itu. Cukup senandungkan kebenaran itu, ia akan diterima.”

— Mawlana Jalaluddin Rumi qs.

“Jadikanlah kebaikanmu seperti hujan, yang tidak peduli pada siapa ia jatuh.”

— Syaikh Izzuddin Ibn Abdussalam qs.

“Kau tak boleh menampakkan aib-aibmu dan mengumumkan dosa-dosamu. Sesungguhnya menampakkan dosa itu dimurkai oleh Allah yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

— Sayyidi Syaikh Abdul Khalik Fajduani Al-Khalidi qs.

“Tidak ada yang perlu dipertahankan. Uang, materi, lembaga, konsep, jabatan, status, popularitas, bahkan nama baik pun, tidak perlu dipertahankan, yang perlu dipertahankan adalah “Apa aku sudah benar-benar Baik?'”‘

— Sayyidi Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari qs.

“Apabila Allah telah membukakan pengertian (faham) tentang penolakan-Nya, maka berubahlah penolakan itu hakikatnya menjadi pemberian.”

— Syaikh Mutawalli Asy-Sya'rawi

“Tidak perlu susah saat orang lain mengacuhkanmu atau berubah perilakunya kepadamu. Boleh jadi itu adalah pengabulan doamu di sebuah malam: “Ya Allah, hindarkan dariku keburukan yg telah Engkau takdirkan.””

— Sayyidi Syaikh Abdul Qadir Jailani qs.

“Aku memeriksa seluruh amal, aku tak menemukan yg lebih utama lagi selain memberi makan, dan tak ada yg lebih mulia daripada akhlak mulia. Aku ingin jika seluruh dunia ada dalam genggamanku, niscaya aku akan memberikannya kepada orang yg lapar.”

— Aisyah Al-Bauniyah

“Ingatlah Allah dengan hati kalian. Sebab, satu-satunya ingatan yang bertahan secara permanen adalah mengingat Allah dengan hati. Adapun mengingat dengan lidah, mustahil bertahan secara abadi.”

— Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali qs.

“Menuntut ilmu adalah takwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah dzikir. Mencari ilmu adalah jihad.”

— Sayyidi Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari qs.

“Dzikir yg terlihat bersumber dari penyaksian batin dan hasil berpikir.” Dzikir yg lahir tak lain bersumber dari musyahadah /penyaksian terhadap Tuhan secara batin dan hasil tafakkur tentang-Nya.

— Sayyidi Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari qs.

“Di antara tanda mengikuti hawa nafsu adalah sigap melakukan amalan sunnah, namun malas menunaikan amalan wajib.”

— Syaikh Izzuddin Ibn Abdussalam qs.

“Sifat paling utama manusia adalah pengetahuan. Pengetahuan yg paling utama adalah mengenal Tuhan, karena pengetahuan ini memerintahkan segala kebaikan dan mencegah dari segala penyimpangan.Setelah itu, mengetahui hukum² Al-Qur’an, janji bagi orang taat dan beriman serta ancaman bagi orang kafir dan gemar bermaksiat. Buah mengenal Tuhan yg Maha Kasih adalah ahwal (kondisi ruhani) yg luhur, perkataan yg bernilai, perbuatan yg diridhai, dan derajat di akhirat. Buah mengetahui hukum² Al-Qur’an adalah menjauhi kedurhakaan dan mengikuti yg diridhai Tuhan.”

— Abuya Sayyid Muhammad bin 'Alawi Al-Maliki

“Tidak ada derajat yang lebih tinggi selain daripada prasangka baik, karena dalam prasangka baik terdapat keselamatan dan keberuntungan.”

— Mawlana Jalaluddin Rumi qs.

“Ketika kau mencari Cinta dengan sepenuh hati, kau akan menemukan gemanya di alam semesta.”