Puisi Yunus Emre

Facebook
WhatsApp
Copy Title and Content
Content has been copied.
2 min read

Puisi oleh Yunus Emre

: : : : : : :

Cinta adalah mazhab dan agamaku.
Saat mataku melihat wajah Sang Sahabat,
semua derita menjadi riang.

Ini, Rajaku,
kupersembahkan diriku pada-Mu.
Sejak awal hingga akhirnya
harta kekayaanku hanya diri-Mu.

Awal akal dan jiwa ini,
ketika jarak bermula
adalah bersama-Mu.
Engkaulah ujungnya, dan segala di antaranya
Aku cuma bisa bergerak ke arah-Mu.

Jalanku adalah dari-Mu, menuju-Mu.
Lidahku bicara tentang-Mu, dalam diri-Mu.
Walau begitu, tanganku tak bisa menyentuh-Mu.
Kenyataan ini mempesonakan daku.

Tak bisa lagi kusebut diriku “aku”.
Tak bisa lagi kusebut siapa pun “engkau”.
Tak bisa kubilang “ini hamba” dan “itu raja”.
Itu takkan masuk akal.

Sejak kudapatkan cinta dari Sang Sahabat
alam ini dan alam berikutnya menyatu.
Kalau kau bertanya tentang awal yang tak berpangkal
dan akhir yang tak berujung,
itu cuma siang dan malam bagiku.

Tak bisa lagi aku berduka
atau hatiku bermuram durja,
karena suara kebenaran telah terdengar,
dan kini aku selalu dalam pesta pernikahanku.

Jangan biarkan aku mengembara dari cinta-Mu,
jangan biarkan aku meninggalkan pintu-Mu,
dan jika aku kehilangan diriku,
biarlah kutemukan dia sedang bersama-Mu.

Sang Sahabat menyuruhku kemari :
Pergi dan lihatlah dunia, katanya.
Aku telah datang dan menyaksikan
alangkah indah ia ditata.
Tapi yang mencintai-Mu tak berhenti disini.

Dia katakan pada para hamba-Nya,
Esok kan Kuberi kalian surga.
Esok yang itu adalah hari-ini ku.

Siapa lagi yang mengerti kebenaran derita ini?
Dan andai pun terpahami,
itu takkan terkatakan.
Maka kuhadapkan wajahku pada-Mu.

Engkaulah kehidupan dan alam semesta,[1]
harta yang dirahasiakan.
Segala raih dan lepas adalah dari-Mu.
Tindakanku tak lagi jadi milikku.

Yunus menghadapkan wajahnya pada-Mu
melupakan dirinya.
Dia sebut setiap kata bagi-Mu.
Engkaulah yang menjadikannya bicara.


by Yunus Emre (1238-1321)
Diterjemahkan oleh Herry Mardian, dari “The Drop That Became The Sea”, Kabir Helminski (trans.)

: : : : : : :

Sumber: https://suluk.wordpress.com/
Catatan admin:
[1] Multi-tafsir: Kehidupan adalah kias untuk ruh atau yang Al-Bathin; Sedangkan alam semesta (segala selain-Nya) adalah kias bagi hal-hal yang nampak atau kias bagi Nama-Nya jua, yakni Ad-Zahir. Yang jelas di sini adalah bahwa Mawlana Yunus Emre tidak berpaham Wujudiyyah (menganggap wujud alam adalah wujud Tuhan) maupun Pantheisme (menganggap segala sesuatu adalah Tuhan), melainkan Monoteisme yang murni atau Tauhid (yang wujud secara hakiki (wajibul wujud) hanyalah Allah). Wallahu a’lam.

Stay inside the oasis.

Tetaplah berada di dalam oase.

Sulthanul Awliya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Syattariyah: Tarekat dari Negeri Hindustan

Problem Umum bagi Murid Thariqat

Anjuran untuk Tidak Langsung Minum Air Setelah Dzikir

Dalil Membakar Buhur/Dupa dalam Majelis Dzikir dan Maulid

Aneka Kunci di Kehidupan Dunia dan Akhirat

Istiqamah-lah Sampai Engkau ke Tahap Cinta

Pentingnya Adab dalam Beribadah

Menjadi Ahli Taat Beribadah: Makna Ridha Allah dalam Ketaatan menurut Sayyidi Syaikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari

Dimensi Kemanusiaan Sufisme dan Thariqah

Kisah Sayyidina Abu Bakar (ra) & Siti Aisyah (ra) Tentang Berterima Kasih

Syaikh Muhammad Ali as-Sanusi

Hidup Ini Terlalu Singkat

11 Prinsip Dzikir Dalam Tarekat Naqsyabandiyah

Hubungan Istighfar Dengan Shalawat

Manaqib Syaikh Baha’uddin Naqshbandi

Tugas Menaklukkan Gunung Galunggung dari YM Ayahanda Guru

Ketika Ulama Terdahulu Menguji Muridnya

Puisi Yunus Emre