Kematian, Barzakh dan Akhirat
Salah satu hal yang wajib diimani keberadaannya adalah al-maut (kematian). Kematian pasti akan menimpa setiap yang bernyawa, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” [QS. al-Anbiya’ 21:35] Allah Ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” [QS. az-Zumar 39:30]
Selain keterangan dari Alqur’an, banyak pula keterangan hadis yang menegaskan adanya kematian. Kematian merupakan hal yang wenang menurut akal dan dijelaskan oleh syara’. Karena itu keberadaannya wajib diimani.
Mati adalah keterputusan hubungan yang terjalin di dunia antara ruh dan badan, keterpisahan dan keterhalangan antara ruh dan badan, pergantian dari satu keadaan ke keadaan yang lain dan perpindahan dari alam ke alam lain. Di dalam khotbah ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz disebutkan, “Sesungguhnya kalian diciptakan untuk selamanya. Tetapi kalian akan berpindah-pindah dari satu alam ke alam yang lain.” Keterangan tersebut absah dari ‘Utbah bin Ghazwan, seorang sahabat agung Rasulullah saw.
Kita harus yakin bahwa malaikat yang mencabut ruh, yaitu ‘Izra’il pasti akan bisa mencabut semua ruh dengan izin Allah. Sungguh, Allah Ta’ala telah berfirman, Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” [QS. as-Sajdah 32:11]
Di dalam hadis tentang Malaikat Maut yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani disebutkan, “Demi Allah, kalaupun ruh seekor nyamuk yang hendak aku cabut, niscaya aku tidak akan sanggup mencabutnya sebelum Allah mengizinkan.”
Ada ulama yang berpendapat, Allah Ta’ala sendiri yang mencabut ruh malaikat maut dan ruh para syuhada, begitu juga ruh orang yang selalu membaca Ayat Kursi setiap usai shalat dan orang yang ahli lapar (berpuasa) di dunia. Pendapat ini berdasarkan hadis.
Apabila Anda berkata, “Di dalam Alqur’an ada keterangan yang menyandarkan langsung pencabutan ruh kepada Allah, sedangkan pada ayat lainnya pencabutan ruh itu disandarkan kepada malaikat. Sebagaimana tampak pada firman Allah Ta’ala, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” [QS. az-Zumar 39:42] Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman, “…Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” [QS. al-An’am 6:61]
Jawabannya adalah: proses mematikan disandarkan kepada Allah karena pada hakikatnya Dialah sang pelaku, yakni Dialah yang menciptakan perbuatan mematikan itu. Sedangkan penyandarannya kepada Malaikat Maut karena dialah yang dipercaya oleh Allah untuk melakukannya, karena para malaikat adalah pembantu-pembantu-Nya.
Apabila banyak orang mati secara bersamaan di tempat yang berbeda, bagaimana bisa Malaikat Maut mencabut semua ruh orang-orang yang mati itu sendirian? Tentu bisa. Karena baginya, dunia ini bagai piring di hadapan orang makan. Dia akan dengan mudah mengambil apa pun darinya yang dia kehendaki.
Anas ibn Malik berkata, “Suatu kali, Jibril menemui Malaikat Maut di sungai Faris (Persia), lalu bertanya, “Wahai Malaikat Maut, bagaimana engkau sanggup mencabut banyak nyawa ketika terjadi wabah penyakit. Pada waktu yang bersamaan, di sini ada sepuluh ribu manusia mati, di tempat lain juga demikian?” Malaikat Maut menjawab, “Bumi ini didekatkan kepadaku seakan-akan berada di kedua pahaku. Aku tinggal mengambilinya dengan tanganku.”
Makna ‘Izra’il di dalam bahasa Arab adalah ‘Abdul Jabbar. Malaikat ‘Izra’il adalah malaikat yang besar yang tampilannya amat menakutkan dan mengerikan. Makhluk yang ada dunia ini berada di depan matanya. la mempunyai pembantu yang sangat banyak. Jika mendatangi orang yang beriman, dia berwujud baik dan menyenangkan, tidak menakutkan. Tetapi bagi orang yang tidak beriman, dia tampak dalam rupa yang amat mengerikan. Dan kematian akan terasa ringan bagi orang yang shalih.
Hal lain yang dapat meringankan kematian adalah bersiwak, sebagaimana dituturkan oleh ulama. Pendapat ini didasari dengan hadis ‘A’isyah di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim tentang kisah Nabi Muhammad saw. bersiwak sebelum wafat. Hal lain yang dapat meringankan kematian dan semua teror setelah kematian—sebagaimana dituturkan oleh al-Muhaqqiq as-Sanusi dan lainnya—adalah shalat dua rakaat yang dilakukan tiap malam Jumat setelah maghrib, yang pada tiap rakaatnya membaca Surah az-Zalzalah lima belas kali usai membaca al-Fatihah.
Kita harus yakin bahwa dalam ilmu Allah Ta’ala, ajal semua yang bernyawa itu satu, tidak berbilang. Orang yang terbunuh tidak akan mati selain karena ajalnya yang—di dalam pengetahuan Allah Ta’ala— telah purna di saat dia terbunuh itu, yang kalaupun bukan karena sebab terbunuh, dia tetap akan mati pada waktu itu. Allah Ta’ala berfirman, “Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka (dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya.” [QS. an-Nahl 16:61]
Ketahuilah bahwa ruh merupakan hal yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala, dan Dia tidak menyilakan seorang pun makhluk untuk bisa melihatnya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” [QS. al-Isra’ 17:85] Yakni, ruh merupakan urusan yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala, untuk menunjukkan betapa lemahnya manusia hingga tidak dapat melihat hakikat dirinya padahal nyata adanya. Allah mengembalikan pengetahuan tentang ruh itu kepada Diri-Nya disertai penegasan akan ketidakmampuan siapa pun untuk mengetahui sesuatu yang tidak Dia beri pengetahuan tentangnya.
Rasulullah saw. beranjak dari dunia ini setelah Allah Ta’ala memperlihatkan semua hal yang Dia samarkan bagi kita (termasuk di antaranya urusan ruh). Hanya saja Allah menyuruh beliau untuk menyembunyikan sebagian dan memberitahukan sebagian lainnya. Yang terbaik bagi kita adalah menahan diri agar tidak terlalu dalam membahas hakikat ruh. Kita tidak boleh membahasnya lebih dari sekadar mengetahui bahwa ruh itu nyata adanya, karena Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” [QS. al-ISra’ 17:36]. Ini adalah sikap yang dipilih oleh Ibnu ‘Abbas dan kebanyakan ulama salaf. Mereka juga tidak berusaha memastikan tempat tertentu (satu bagian tertentu) di dalam badan sebagai tempat menetap ruh.
Ada memang kelompok lain yang berbicara tentang ruh, bahkan berusaha meneliti hakikatnya. Tetapi an-Nawawi berkata, “Pendapat yang dianggap paling unggul mengenai masalah ruh adalah pendapat Imam al-Haramain. Beliau mengatakan bahwa ruh adalah jisim halus nan lembut yang hidup dan menubuh dijasad kasar seperti air menubuh di kayu yang segar.”
Hal lain yang wajib diyakini oleh setiap mukallaf adalah kenyatan bahwa pada diri setiap hamba, sejak masa taklif, ada malaikat yang bertugas mencatat amal perbuatan dan perkataannya, meski sekadar rintihannya saat sakit. Allah memberi tanda-tanda bagi amal hatinya agar malaikat dapat membedakan antara amal hatinya yang baik dan yang buruk. Tanda-tanda itu berupa bau wangi bila amal hatinya baik dan bau busuk bila amal hatinya buruk.
Sufyan ats-Tsauri pernah ditanya, “Bagaimana malaikat bisa mengetahui bahwa si hamba bermaksud melakukan perbuatan yang baik atau buruk?” Beliau jawab, “Apabila si hamba berniat melakukan amal yang baik, mereka mencium wangi misik. Namun apabila si hamba berniat melakukan keburukan, mereka mencium bau busuk.”
Kenyataan adanya malaikat pencatat amal pada diri setiap mukallaf berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi AlIah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaan itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. al-Infithar 82:10-12]. Keterangan ini juga diperkuat dengan hadis dan ijmak, kita wajib meyakininya. Barangsiapa mendustakannya atau meragukannya, berarti dia kafir.
Bagi setiap orang ada dua malaikat, yang satu pencatat amal baik dan yang satu lagi pencatat amal buruk. Malaikat yang pertama (pencacat amal baik) sebagai pemimpin bagi yang kedua (pencatat amal buruk). Malaikat pencatat amal buruk hanya akan menuliskan amal buruk si hamba bila amal buruk tersebut sudah berlalu beberapa saat tanpa diikuti dengan pertobatan atau perbuatan-perbuatan lain yang bisa menjadi kifarat baginya. Apabila di sela-sela perbuatan buruk itu si hamba membaca istighfar, malaikat pencatat amal baik akan menuliskan satu kebaikan baginya. Tetapi apabila perbuatan buruk itu sama sekali tidak disertai istighfar atau hal-hal Iain yang bisa menjadi kifaratnya, maka malaikat pencatat amal baik akan berkata kepada malaikat pencatat amal buruk, “Catatlah (amal buruknya)! Semoga Allah mengistirahatkan kita darinya.”
Kedua malaikat itu tidak akan berpisah dari setiap hamba selama dia hidup, kecuali saat si hamba buang hajat dan menggauli istrinya. Karena itu si hamba dituntut meminta perlindungan kepada Allah ketika masuk kakus dan membaca basmallah ketika hendak bersetubuh.
Apabila seorang hamba mati dan dia mati dalam keadaan mukmin, kedua malaikat penyertanya itu akan duduk di atas kuburnya dan memohonkan ampun kepada Allah hingga Hari Kiamat. Apabila hamba yang mati itu mati dalam keadaan kafir, maka kedua malaikat itu akan duduk di atas kuburnya sambil terus mengutuknya hingga Hari Kiamat.
Jika Anda bertanya, “Bukankah kita tahu bahwa Allah tidak membutuhkan catatan amal.” Saya jawab: ada dua faedah pencatatan itu. Pertama, bersifat duniawi, yakni mencegah maksiat di dunia. Apabila manusia tahu bahwa semua perbuatan dirinya akan dicatat oleh kedua malaikat itu, niscaya ia akan menjaga diri dari maksiat. Kedua, bersifat ukhrawi, yakni sebagai hujjah bagi mereka di Hari Kiamat kelak bila mereka mungkir dan berkata bahwa mereka tidak melakukan amal perbuatan itu.
Selain meyakini adanya dua malaikat pencatat amal hamba, kita juga mesti meyakini adanya pertanyaan dari Malaikat Munkar dan Nakir yang akan diterima si mayit di dalam kubur. Yakni, setelah usai penguburan dan para pengiring beranjak pergi. Allah akan mengembalikan ruh ke dalam mayat secara purna. Jalaluddin as-Suyuthi berkata di dalam salah satu syairnya, “Menurut jumhur ulama, semua(bagian diri)nya hidup, bukan hanya sebagian, berdasarkan hadits yang ma’tsur.”
Setelah mayit selesai dikubur, Allah Ta’ala akan mengembalikan panca inderanya, akalnya dan pengetahuannya, yang dengan semua itu dia bisa memahami pertanyaan dan memberi jawaban saat Munkar dan Nakir menanyainya.
Al-lmam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari sahabat Anas dengan status marfu’, “Sungguh, apabila seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur dan orang-orang yang mengiringnya telah pulang, dua malaikat akan segera mendatanginya, lalu mendudukkannya dan berkata, ‘Apa yang telah engkau katakan tentang Nabi Muhammad saw?’ Hamba yang mukmin akan menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba dan rasul Allah.’ Lalu dikatakan kepadanya’ ‘Lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantikannya untukmu dengan tempat duduk di surga.’ Kemudian si hamba yang mukmin itu melihat kedua-duanya. Sedangkan hamba yang kafir atau munafik akan menjawab, ‘Aku tidak tahu. Aku telah berkata sebagaimana orang-orang mengatakannya.’ Lalu dikatakan kepadanya, “Engkau tidak tahu dan tidak mengerti.” Kemudian dia dipukul dengan palu besi hingga menjerit-jerit karenanya, dan jeritannya itu bisa didengar oleh makhluk di sekelilingnya selain jin dan manusia.”
Abu Dawud meriwayatkan hadis serupa dengan redaksi yang berbeda. Abu Dawud meriwayatkan, “…lalu kedua malaikat itu bertanya kepadanya, ‘Siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa laki-laki yang telah diutus kepada kamu itu?” Hamba yang mukmin akan menjawab, ‘Tuhanku Allah, agamaku Islam, dan laki-laki yang telah diutus itu adalah Rasulullah saw.’ Sedangkan hamba yang kafir akan menjawab tiga pertanyaan tadi dengan jawaban, ‘Tidak tahu.”‘
Ketika menanyai mayit di dalam kubur, Munkar dan Nakir menyebut Rasulullah saw. dengan sebutan ‘hadzar-rajul (laki-laki ini)’, seperti tanpa penghormatan kepada beliau, karena dimaksudkan untuk menguji, guna membedakan antara orang yang benar imannya dan yang tidak benar. Hamba yang benar imannya akan bisa menjawab. Sedangkan yang tidak benar imannya akan berpikir, “Seandainya lelaki ini mempunyai derajat tinggi di sisi Allah Ta’ala sesuai pengakuannya di dalam kerasulannya, tentu malaikat ini tidak akan menyebutnya dengan sebutan seperti ini (tidak hormat).’ Dan saat itu dia akan berkata, “Aku tidak tahu.”—na’udzu billah. Kemudian dia akan disiksa dan mendapat kesengsaraan abadi.
Munkar dan Nakir menanyai mayit dengan bahasa si mayit. Keduanya pasti akan menanyai si mayit walaupun anggota tubuhnya telah remuk, atau dimakan binatang buas, atau diterbangkan angin. Sungguh, kuasa Allah Ta’ala bisa mengembalikan ruh ke tubuh si mayit meski anggota tubuhnya terpisah-pisah. Tidak sulit bagi Allah untuk melakukannya.
Keadaan mayit cli dalam kubur saat ditanyai malaikat itu beragam. Ada yang ditanyai oleh kedua malaikat secara bersamaan dan sangat menekan. Ada pula yang hanya ditanyai oleh salah satunya saja, sebagai keringanan. Apabila ada banyak orang meninggal di daerah berbeda dalam waktu yang bersamaan, Allah Ta’ala bisa saja memperbesar jasad kedua malaikat itu agar keduanya bisa menanyai semua mayit di kubur mereka masing-masing secara serempak dalam satu kali bertanya. Sementara al-Hafizh as-Suyuthi berkata, “Boleh jadi malaikat yang bertugas menginterogasi mayit itu banyak. Yang sebagian dinamakan Munkar, yang sebagian lain dinamakan Nakir. Lalu untuk masing-masing mayit dikirimkan dua malaikat dari mereka.
Proses interogasi di alam kubur ini tidak berlaku umum bagi semua mayit. Karena ada pengecualian bagi sejumlah orang yang disebutkan di dalam atsar bahwa bagi mereka tidak ada pertanyaan Munkar dan Nakir. Di antaranya adalah para nabi a.s., shiddiqun, orang-orang yang mati syahid, orang yang tiap malamnya membaca Surah Tabarak dan yang membaca Surah al-Mulk sejak ia mendapat kabar tentangnya, entah dia membacanya menjelang tidur atau sebelumnya. Juga orang-orang yang saat sakit menjelang kematiannya membaca Surat al-lkhlash. Demikian pula orang yang mati karena sakit perut, atau mati saat terjadi wabah tha’un dalam keadaan sabar dan mengharap pahala Allah, entah dirinya ikut terserang tha’un ataupun tidak. Atau mayit yang mati pada hari atau malam Jum’at, walaupun dikuburnya pada hari Sabtu. Demikian pula orang yang mengalami kegilaan atau idiot sejak sebelum menginjak masa taklif.
Hikmah adanya interogasi di alam kubur, Allah menampakkan apa yang disembunyikan hamba saat di dunia. Iman atau kafir, taat atau maksiat. Allah ridha terhadap kaum mukmin dan mencemarkan yang tidak beriman, na’udzu billah.
Hal lain yang wajib diyakini keberadaannya adalah siksa kubur dan nikmat kubur. Siksa kubur nyata adanya berdasarkan hadis Rasulullah saw. “Siksa kubur itu hak (nyata adanya).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Allah Ta’ala berfirman, “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” [QS. al-Mu’min 40:46]. Yakni di dalam kubur, dengan dalil firman Allah Ta’ala, “.. .dan Pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras,” [QS. al-Mu’min 40:46] dan firman Allah Ta’ala, “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” [QS. al-An’am 6:93]
Yang dimaksud dengan wal-mala’ikatu basithu aydihim adalah, malaikat memukulkan tangannya ke wajah dan pungung mereka seraya berkata kepada mereka, “Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan kepada Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”
Di dalam Shahih-nya, al-lmam al-Bukhari menggunakan ayat ini sebagai dalil untuk menegaskan adanya siksa kubur. Siksa yang akan dialami sejak kematian sampai selamanya.
Al-lmäm al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah berkata saat melintasi dua kuburan, “Sungguh, kedua orang yang berada dalam kubur itu sedang disiksa, bukan karena melakukan dosa besar. Salah satu dari mereka disiksa karena tidak bersuci dari kencing. Yang satu lagi disiksa karena suka mengadu domba.”
Ath-Thabrani meriwayatkan hadis, “Bersucilah kalian sehabis kencing, karena siksa kubur kebanyakan timbul darinya (tidak bersuci sehabis kencing).”
Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Sa’id al. Khudri, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Allah menguasakan orang kafir di dalam kuburnya kepada sembilan puluh sembilan ekor ular berbisa yang akan terus menggigit dan menyengatnya hingga Hari Kiamat, yang kalau satu ekor saja dari ular-ular itu menyembur bumi, niscaya bumi ini tidak akan dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.”
Siksa kubur itu tidak hanya menimpa ruh, tetapi juga badan si mayit. Tidak ada bedanya antara mayit yang jasadnya terpisah-pisah, hancur lebur atau dimakan binatang buas dan ikan di laut. Sebab, hal itu merupakan hal yang mungkin menurut akal, dan syari’at pun telah menegaskannya. Karena itu kita wajib meyakini dan menerima keberadaannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. [QS. al-Hajj 22:18]. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. [QS. Hud 11:4]
Siksa kubur ada dua macam. Pertama, yang langgeng, yakni siksaan bagi orang kafir, munafik dan sebagian pelaku maksiat. Kedua, yang terputus, yakni siksaan bagi pelaku maksiat yang dosanya ringan. Mereka disiksa sesuai kadar dosanya, kemudian siksanya dihilangkan berkat doa, bacaan Alqur’an, sedekah atau yang lainnya. Orang yang termasuk kategori orang yang tidak akan diinterogasi Munkar Nakir tidak akan mendapat siksa kubur.
CATATAN
Salah satu bentuk siksa kubur berupa himpitan dinding kubur. Tidak ada seorang pun yang bebas dari himpitan ini, orang shalih maupun pendosa. Kecuali para nabi a.s., Fathimah bint Asad ibunda Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib r.a., dan orang yang membaca Surat al-lkhlas saat menjelang kematiannya, sebagaimana dikabarkan Rasulullah saw.
Kenapa Fathimah binti Asad selamat dari jepitan kubur? Karena dia memperoleh berkah al-Mushthafa saw. Rasulullah saw. mengafani Fathimah binti Asad dengan gamisnya, beliau juga turun ke liang lahadnya dan berbaring di sana seraya berdoa, “Ya Allah, kasihilah Fathimah binti Asad dan luaskanlah kuburannya dengan hak Nabi-Mu dan para nabi yang sebelum aku.” (HR. ath-Thabrani)
Di dalam satu riwayat disebutkan bahwa himpitan kubur itu laksana pelukan seorang ibu yang penyayang kepada anaknya yang sakit demam, dia mengelus kepala anaknya dengan lembut. Ini bagi mayit yang taat. Adapun bagi si pendosa, sekalipun dia beriman, himpitannya amat keras dan dahsyat hingga tulang belulang si mayit berantakan. Ya Allah, kami memohon keselamatan kepada-Mu, dengan anugerah dan kemurahan-Mu, amin.
Kita juga wajib meyakini adanya nikmat kubur, karena ada nash mutawatir yang menyebutkan keberadaannya. Nikmat kubur itu dirasakan oleh ruh dan badan setelah ruh dikembalikan ke dalam badan. Nikmat kubur tidak khusus bagi umat Nabi Muhammad saw. dan orang mukmin yang mukallaf, tetapi bagi semua orang yang beriman.
Salah satu bentuk nikmat kubur berupa perluasan ruang kubur hingga tujuh puluh hasta panjang dan lebarnya. Lalu dari kuburnya terbuka berkas ke surga. Bentuk lainnya berupa semerbak wewangian yang memenuhi kubur, sehingga kuburnya menjadi taman surga. Lalu di dalam kubur itu dinyalakan lentera yang meneranginya laksana bulan di malam purnama.
Di dalam atsar disebutkan, “Allah berfirman kepada Sayyidina Musa, ‘Belajarlah kebaikan dan ajarkanlah kepada manusia. Sebab, Aku akan menerangi kuburan orang yang mengajarkan ilmu dan orang yang mempelajarinya hingga mereka merasa betah di dalamnya“
‘Umar ibn al-Khaththab berkata, “Barangsiapa menerangi masjid-masjid Allah, Allah akan memberi dia terang di kuburnya.”
Siksa dan nikmat tersebut disandarkan pada kubur (siksa dan nikmat kubur), karena umumnya orang mati dikuburkan. Tetapi tidak berarti bahwa orang yang mati dimakan binatang buas, atau yang mayatnya tidak dikuburkan tidak akan mengalami siksa atau nikmat kubur. Sungguh, semua mayit yang dikehendaki Allah mendapat siksa atau nikmat kubur, dia pasti akan mendapatkannya, dikubur maupun tidak.
Jika Anda berkata, “Kita bisa melihat keadaan mayit setelah dikubur, dan kita tahu dia tetap mayit, yang kafir dan yang mukmin kondisinya sama, pendosa maupun hamba yang taat. Lalu bagaimana maksudnya dia mengalami siksa atau nikmat di dalam kuburnya setelah ruh dikembalikan kepada tubuhnya?”
Kami jawab: pertanyan ini muncul hanya dari orang yang hatinya tidak kokoh mengimani semua yang telah dikhabarkan oleh Sang Nabi yang sungguh jujur nan terpercaya, yang tidak percaya bahwa rasul diberi keistimewaan berupa kemampuan melihat malaikat. Padahal, tentang iblis dan pasukannya saja Allah Ta’ala berfirman, “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan iłu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” [QS. al-A’raf 7:27]. Tidak ada keraguan akan kebenaran hal itu. Perhatikanlah bagaimana orang yang tidur merasakan kesenangan, kesusahan atau rasa sakit pada dirinya yang dia alami dalam mimpi. Seperti saat dia mimpi melihat ular yang menggigitnya dan ia merasakan sakit gigitannya hingga menjerit-jerit. Bahkan keningnya sampai berkeringat dan posisi tubuhnya berubah-ubah. Semua itu dia rasakan dałam mimpinya seperti orang yang sedang terjaga. Dan kita yang bahkan berada di sampingnya tidak menyadari sesuatu pun dari peristiwa yang dia alami di dalam mimpinya.
Kubur merupakan persinggahan pertama di akhirat, dan setiap yang berhubungan dengan akhirat merupakan alam malakut. Mata yang biasa kita gunakan untuk melihat tidak akan mampu melihat hal-hal yang bersifat malakut. Tidakkah Anda perhatikan bagaimana para sahabat mempercayai turunnya malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw., padahal mereka tidak melihatnya. Mereka juga percaya bahwa Rasulullah saw. melihat Jibril. Bila Anda tidak percaya akan hal ini, perbaharuilah iman Anda kepada Rasulullah saw. dan wahyu Allah. Dan jika Anda sudah percaya dan yakin akan Rasulullah saw. dan wahyu Allah kenapa Anda tidak percaya akan terjadinya berbagai hal yang menimpa si mayit di alam kubur, padahal tidak ada perbedaan di antara keduanya?
Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menjadikan kita sebagai orang yang beriman kepada-Nya, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari akhir. Kita juga memohon agar Dia mematikan kita dengan akhir yang bahagia serta menjaga kita dari kelalaian dan kesesatan. Sungguh, Allah Mahamulia dan Maha Penyayang.
Dalam masalah kubur ini, kita juga meyakini bahwa para syuhada hidup di dalam kuburan mereka dengan kehidupan yang sempurna, dengan alasan firman Allah Ta’ala, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.” [QS. Ali ‘Imran 3:169]
Hidup para syuhada di kubur merupakan kehidupan yang nyata, berdasarkan lahiriah ayat tersebut. Mereka sungguh dilimpahi rezeki yang mereka inginkan, sebagaimana orang hidup di dunia diberi rezeki makan, minum dan lain sebagainya. Al-Jazuli berkata, “Kehidupan mereka tidak dapat dipikirkan dan dibayangkan akal manusia. Kita wajib percaya bahwa mereka hidup tanpa perlu membahas bagaimana hakikat atau bentuk kehidupan mereka.”
Yang dimaksud syuhada’ adalah orang-orang beriman yang terbunuh dalam peperangan melawan orang kafir demi menegakkan kalimah Allah Ta’ala.