Aspek Kemanusiaan dan Keistimewaan Kekasih-Nya

Facebook
WhatsApp
Copy Title and Content
Content has been copied.
2 min read

Banyak Kyai pintar atau ada wali yang punya keistimewaan, tapi justru yang mengambil manfaat ilmu dan doanya dari luar daerah sendiri. Itu krn orang orang terdekatnya lebih banyak melihat sisi ‘basyariyyah’ (sifatnya sebagai manusia biasa) dari pada ‘khususiyyah’ (keistimewaan).

Menurut Guru saya, yang demikian krn mereka melihat secara langsung bagaimana saat kentut, makan, ke kamar mandi, marah, susah, senang: hanya melihat aspek ‘basyariyyah’ inilah yang menjadi penghalang kita mendapat manfaat. Maka dikatakan, yang paling sedikit mendapat manfaat dari seorang syekh adalah justru istri dan anak atau yang mengurus urusan syekh tersebut.

اقل الناس نفعا بالشيخ زوجته وابنه ونقيبه لكثرة مشاهدتهم له ووقوفهم مع ظاهر بشريتهم دون الوصول الي معرفة قلبه وما فيه من الاسرار والمشاهد النفيسة

“Orang yang paling sedikit mengambil manfaat dari seorang syekh adalah istri, anak dan yang mengurus segala keperluannya. Karena intensitas melihat mereka yang terlampau sering, namun hanya terpaku pada aspek ‘basyariah’ (manusianya) semata, tidak sampai pada kemakrifatan hati syekh, rahasia serta fenomena menakjubkan di dalamnya.”

Abu Yazid al-Busthami mengatakan, “siapa saja yang melihatku, ia masuk sorga.” Sebagian muridnya mempersoalkan, “bagaimana bisa, sementara melihatnya Abu Jahal dan Abu Lahab pada nabi saja tidak memberikan efek apa apa.” Abu Yazid menjawab, sebab mereka melihat Muhammad bukan sebagai Nabi, tetapi hanya sebagai yatim-nya Abu Thalib.”

Terkadang juga, seorang wali meninggal, namun baru dikenal ramai setelah ia meninggal: makamnya diziarahi orang banyak. Tapi saat masih hidup, ia bukanlah siapa siapa di tengah masyarakatnya. Maka ada ungkapan, ada syekh atau wali yang memberikan manfaat pada orang yang masih hidup justru ketika sudah meninggal. Krn semasa hidup, orang yang se zaman hanya melihat sisi ‘basyariyyah’ saja.

لانهم يرون البشرية لا الخصوصية

“Mereka melihat sisi basyariyyahnya, bukan khususiyyahnnya.”

Yang melihat aspek keistimewaannya hanya orang orang tertentu saja.

Quthb al-Zaman, al-Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad, merupakan wali yang dianggap bukan siapa siapa oleh manusia semasa beliau hidup. Hanya segelintir orang yang menimba ilmu.

Salah seorang muridnya mengatakan, bagaimana bisa, sosok sekaliber Abdullah Alawi al Haddad tidak ada yang datang mendekat. “Diamlah, jika banyak orang tahu, maka kita tak akan bisa sedekat ini.”

Stay inside the oasis.

Tetaplah berada di dalam oase.

Jika Tak Mampu Menangis, Berpura-puralah Menangis

Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari: Pengarang Al-Hikam

Menjemput Rahmat Allah Agar Selamat

Masyayikh Ahli Silsilah Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah

11 Prinsip Dzikir

Bahagia Mengamalkan Ajaran Islam; Catatan YM. Abu Tentang YM. Ayahanda Guru

Hadits Jibril

Sejarah Tarekat Naqsyabandiyah

Kisah Teladan Abah Habib Luthfi Bin Yahya

Disiplin Sufi

Prinsip-Prinsip Thariqat

Aspek Kemanusiaan dan Keistimewaan Kekasih-Nya

Makna Musyahadah dan Mukasyafah dalam Ilmu Tasawuf

Ajaran dan Dzikir Tarekat Tijaniyah

Hakikat Adab dalam Tasawuf

Syaikh Abu Yazid al-Busthami: Raja Mistikus

Kaum Tarekat: Militan atau Apolitik?

Memahami Konsep Wujud Menurut Syekh Nuruddin Ar-Raniri

Aspek Kemanusiaan dan Keistimewaan Kekasih-Nya